TERNYATA KITA SAMA
Percaya jika perbuatan baik itu balasannya akan kita terima? Walau setelah raga kita pergi dari dunia.
Percaya? Aku percaya. Namun tak cukup cerita untuk menjelaskan bagaimana cara itu bekerja.
Sampai pada satu waktu, Aku dihadapkan pada kejadian teman seperjuanganku tiada. Ia lebih dulu pergi menuju tahap selanjutnya sebelum menyelesaikan studi sarjana-nya.
Tak pernah ada yang tahu memang kapan ajal datang. Ia tak pernah menunggu seseorang menjadi baik. Tak menunggu seseorang siap, bahkan tak perlu mempertanyakan dengan cara apa ketika bertemu ajal.
Yerico Yanu Asmara. Nama temanku yang lebih dulu pergi. Beberapa hari ini aku memikirkan Ibu dan keluarganya. Apa yang mereka rasakan setelah kepergian anak sulungnya.
Kubulatkan tekad untuk bertemu keluarganya. Memberi hadiah kecil di bulan Ramadhan, terutama untuk adik paling kecilnya yang seumuran dengan adik paling kecilku.
Rabu, 20 Mei 2020 pagi menjelang siang hari, aku sampai di depan pintu rumahnya. Aku ketuk pintu rumahnya sembari mengucap salam.
Dari balik pintu terdengar seseorang menjawab salam. Pintu kemudin terbuka. Aku disambut perempuan yang masih mengenakan mukena berwarna putih.
“silahkan masuk." Ucapnya
“oh nggih, mohon maaf Saya disini saja Bu. Dari jalan belum cuci tangan soalnya. Ini ada sesuatu buat Ibu dan keluarga.” Kataku. Musim pandemi ini dengan perjalanan yang cukup jauh, dan Surabaya yang masih red-zone aku takut menjadi “carrier” untuk keluarganya.
“oh ya Allah. Kalau boleh tau dari siapa Mba?”
“dari KAMMI Surabaya Bu.” jawabku sekenanya.
“loh dari KAMMI Surabaya? Sek sebentar Mba, tolong masuk dulu. Duduk dulu, Saya mau minta nomor Mba sama alamatnya KAMMI Surabaya boleh?’
Karena permintaannya, Aku beranikan diri untuk masuk, sembari ada banyak pertanyaan yang muncul untuk apa beliau meminta itu semua.
••••••••••••
Setiap manusia punya karakter sendiri untuk menjalankan amanahnya. Ada yang seorang konseptor, ada juga yang teknisi. Masing masing manusia terlahir dengan kelebihannya.
Dari jumlah kader KAMMI yang ku kenal, Yerico bukan kader yang terkenal di sosmed dengan feed instagram memukau, bukan pula kader yang lantang ketika berorasi, bukan pula kader yang tulisannya terbit dimana mana. Ia seorang kader lapangan yang bertanggungjawab melakukan amanah dengan caranya. Sederhana, tapi nyata. Ia bekerja dalam diam. Aksinya konsisten tanpa perlu penilaian orang.
Semua amanah yang ia terima seringkali amanah mengurus kegiatan sosial masyarakat. Atau biasa disebut dengan sosma.
Mulai tingkat komisariat hingga daerah, amanahnya selalu sama. Kalau tak menjadi staff sosma, ya kadep sosma. Sampai tingkat daerah pun amanahnya tak jauh berbeda. Menjadi sekretaris divisi sosma.
Tak pernah meminta yang lain atau mengeluh bosan. Aku curiga, jangan-jangan ia menikmati perannya. Peran mengabdi dan berderma kepada masyarakat. Ia menemukan passion yang sekaligus amanahnya. Empat tahun lebih ia menjadi kader KAMMI. Konsisten beramanah dalam bidang sosma, tapi tetap berusaha menuntaskan jenjang pengkaderannya. Alhamdulillah ia adalah seorang kader KAMMI jenjang AB 2.
“kegiatan di Putat Jaya itu masih aktif sampai sekarang Mba?” ibu tersebut bertanya di tengah obrolan kami
“masih Alhamdulillah Bu. Cuma Saya yang belum terlalu aktif disana. Yerico lebih sering kesana ya?”
“iya Mba, yang di Al Falah itu juga masih aktif? Yerico juga sering kesana..”
Aku hanya mengiyakan tanpa tahu maksudnya. Karena sependek pengetahuanku, daerah binaan KAMMI Surabaya hanya Putat. Selebihnya, antara ketidaktahuanku atau Yerico juga aktif di kegiatan masyarakat lainnya.
••••••••
Aku kemudian duduk di sofa yang disediakan di ruang tamu setelah dipersilahkan, lebih tepatnya dipaksa untuk duduk oleh seseorang yang baru saja kuketahui beliau adalah Ibu Yerico.
“beberapa hari lalu juga ada yang datang atas nama KAMMI Surabaya Mba. Saya itu sampai heran. Ini siapa kok KAMMI Surabaya semua. Selalu lupa tanya identitasnya. Saya itu jadi pengen tau kabar temen-temen Yerico. Sek sebentar ya Mba, Saya ambil kertas.”
Beliau beranjak dari kursinya lalu pergi mengambil kertas.
Jeda waktu itu, tiba tiba ada yang mengalir dari kelopak mataku. Aku tak percaya, ternyata tidak hanya Aku yang melakukan hal ini. Banyak yang kangen kamu Yer..
Agak lama beliau kembali, matanya tiba-tiba terlihat sembab. Sembari memulai menulis beliau memulai percakapan
“Saya itu udah ikhlas Mba. Cuma sering teringat aja. Oiya jadi siapa nama Mba? Boleh minta nomor telepon sekalian Mba? Obat kangen saya sama Yerico itu pengen tahu kabar temen-temennya.”
Agak setengah kesal dan malu Aku menjawab. Sepertinya Aku adalah yang terakhir di bulan ini sehingga membuat beliau ingat untuk melakukan hal apa ketika bertemu “KAMMI Surabaya” lagi. Padahal niat hati hanya sekedar mengusir apa yang mengusik di hati. Lalu pergi. Tanpa menjelaskan siapa diri.
“nama Saya ……”
.
.
.
.
.
Melalui tulisan ini. Aku ingin bertanya. Siapa saja kalian yang ketika datang ke rumah Yerico, lalu mengatasnamakan diri KAMMI Surabaya?
Jangan jangan apa yang kita rasakan sama.
Rindu dan kehilangan
Namun tak perlu mengungkapkan
Jadilah nama KAMMI Surabaya yang digunakan
Ternyata kita sama. Bahkan apa yang kita lakukan pun sama seperti Yerico. Bergerak dalam diam.
……
Yerico. Mungkin bukan melalui bagusnya konten instagram, atau tulisan yang menggerakkan
Tapi cukup ketulusannya yang menggetarkan semesta. Setara dengan influencer di jagat sosial media.
….
.
.
Epilog.
Sebuah catatan kenangan.
Di pinggir jalan, sore menjelang maghrib, dengan kemacetan Surabaya di perempatan lampu merah.
“Yerico, udah selesai ini galang dananya? Kok sepi gada temen temen yang lain. Maaf ya aku telat”
“hahaha, orang belum mulai daritadi. Cuma dikit temen-temen yang datang. Mas X ini aku telfon ga datang-datang. Katanya beli lakban dan baterai. Ini butuh lakban sama baterai buat toa soalnya. Tapi kok ga balik balik orangnya.”
“lah serius? Padahal udah telat 3 jam ini. Tambah malem kalo ga mulai-mulai. Siapa aja yang udah datang daritadi? Kok Kamu sendirian disini?”
“itu mas Y sama mba C dan B tadi sholat maghrib duluan. Gantian jaga barang. Tadi ada mba H yang datang tapi karena ga mulai-mulai beliau keburu ada agenda. Akhirnya pulang.”
Fyi, ini cerita galang dana yang tidak segera dieksekusi karena musim pulkam. Dan teman-teman yang datang bergilir. Satu datang satu pergi.
“padahal Aku udah ngurus surat izin ke polsek, bolak balik sana sini. Izin kemana mana untuk ngadain galang dana ini. Tapi yaudahlah.. hehe emang kondisinya begini. Sebenernya uda feeling bakal gini, tapi ada arahan untuk ngadain galang dana.”
Akhirnya galang dana terpaksa ditiadakan. Diganti hari yang tak tahu kapan.
Untuk temen temen sosma. Mungkin ini sangat menyuarakan keadaan kalian.
_____________▪︎_____________▪︎____________▪︎______________
Di bulan suci dan bulan berbagi ini, kami mengingatmu. Sosok yang gemar berderma. Di bulan penuh berkah ini, Aku akhirnya mengerti bagaimana mekanisme balasan perbuatan baik itu bekerja. Secara tak langsung Aku belajar makna surah Al Isra' ayat 7 darimu.
Doa terbaik untukmu selalu Yer, tulisan ini apresiasi untuk pahlawan di balik segala kegiatan sosma..
Surabaya,
Kamis, 28 Ramadhan 1441 Hijriyah/21 Mei 2020



Masyaa Allah tulisannya banyak mjd pengingat terutama diri yg sering lalai ini ukh. Bahkan hanya sekadar doa untuk dia dan sahabat perjuanganan lainnya pun seringkali tak teringat :(
BalasHapusInspiratif, semoga mjd amal untuk penulis
Maasyaa allaah, terima kasih ustadzah pencerahannya
BalasHapus